MASIGNALPHA101

Review Buku Lawang Antologi Sastra Bimbingan dan Latihan oleh Dhea Suliani

Review Buku Lawang Antologi Sastra Bimbingan dan Latihan oleh Dhea Suliani
Monday, November 4, 2019

Reviewer
Dhea Suliani
Tanggal
06 Oktober 2019


JudulBuku
Lawang Antologi Sastra
JumlahHalaman
197+vii hlm

TahunTerbit
2018

PenulisBuku
Muhammad Hasyimsyah Batubara,Dkk



PenilaianTerhadap

Cover Buku
Menurut saya cover buku LAWANG ANTOLOGI SASTRA sangat menarik, perpaduan antara judul dan gambar pada cover buku sangat berkaitan kemudian ketika kita mencermati dengan baik cover buku tersebut kita merasa bahwa buku tersebut benar-benar menceritakan kesusastraan pada isi buku.



Blurb (InformasiDalam Cover BelakangBuku)
Menurut saya blurbnya bagus, mudah dipahami dan sangat berkaitan dengan isi buku.



Kata PengantarBuku
Menurut saya kata pengantarnya baik, tutur katanya juga menarik serta membuat pembaca penasaran dengan isi buku tersebut. Di dalam kata pengantar tersebut seolah penulis membuat kita semakin tertarik untuk mempelajari kesusastraan.
Gaya BahasaPenulisanBuku
Menurut saya gaya bahasa penulisannya baik, kata-katanyaa mudah di pahami oleh pembaca dan juga banyak gaya bahasa baru yang di gunakan sehingga pembaca lebih banyak mengetahui kosa kata baru dengan membaca buku tersebut.
PembahasanSingkatBuku
Bab 1 KARYA SASTRA
A.Pengertian Karya Sastra
            Dalam bahasa Indonesia karya sastra disebut juga ,seperti ‘sastra’ dan ‘kesusastraan’. Sastra sendiri dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta yang merupakan penggabungan dari dua kata ‘sas’ yang artinya mengarahkan,mengajarkan,dan member petunjuk, dan ‘tra’ artinya alat atau sarana.  Dari penjelasan tersebut sastra dapat diartikan sebagai alat untuk mengajar atau pengajaran dan petunjuk belajar. Selain itu makna lain dalam bahasa Sansekerta yang menunjuk kepada sastra atau kesusastraan adalah kata ‘kata pustaka’ atau ‘kepustakaan’.
Contoh karya sastra yang bergenre prosa puisi sebagai berikut:
            Pesan Ayah Kepada Anak Yang Pergi Ke Sekolah
Duhai anak ku sayang!
Berangkatlah engkau berguru ke sekolah
Jangan hanya bermain-main
Tapi rajinlah mencari ilmu pengetahuan

Perihal pangan dan sandang
Kucari bersusah payah
Aku tak akan pelit
Memberiny kepadamu

Jika aku pergi menjala
Kudapat dua ekor mera
Kujuallah seeokor
Supaya ada bekal hidupmu

Jika ada uang pendapatan kopi
Kuperoleh dengan bundamu
Kusimpanlah itu sebagian
Sebagian lagi menjadi pusakaku untuk mu

Jika tidak dimakan hama
Kita peroleh tiga bumbun
Kujualkanlah Satu
Pembeli tembakau dan pucuk enau

Begitulah anakku saying
Besar harapku engkau berilmu
Jika besok tubuhku terasa berat
Agar engkaulah kujadikan tempat bertumpu

Jika aku kelak sudah tua renta
Bundamu pun sudah rabun
Bahagiakanlah kami
Engkaulah yang menghidupi kami

O, Yang Maha Penyayang!
Yang mendengar smua ucapanku ini
Aku memohon kepada-Mu
Terangilah sanubari anak ini.
B. Genre Karya Sastra
            Genre karya sastra merupakan bentuk, jenis ragam, macam, katagori maupun klasifikasi yang mempunyai struktur karya sastra yang indah:
            Genre karya sastra:
<![if !supportLists]>·         <![endif]>Poetry/Puisi: Puisi Indonesia(puisi baru,puisi lama) dan Puisi English.
<![if !supportLists]>·         <![endif]>Prose/Prosa: Fiksi/Non Fiksa(Prosa Indonesia(prosa lama,prosa baru),Prosa English).
<![if !supportLists]>·         <![endif]>Drama: Jenis drama,penyajianlakon,sarana pementasan,dan unsure drama.

Bab2 ALIRAN SASTRA
<![if !supportLists]>A.      <![endif]>Jenis Aliran Sastra
Aliran sastra merupakan pandangan yang diambil seorang penulis atau sastrawan dalam menciptakan suatu karya sastra atau dalam menggeluti dunia sastra.
Aliran Sastra:
<![if !supportLists]>·         <![endif]>Idealisme: Romantisme(romantic idealisme, romantic realisme), simbolik, mistisme, surealisme.
<![if !supportLists]>·         <![endif]>Materialisme: Realisme(saintisme,positivism,determinisme),naturalisme.
<![if !supportLists]>B.      <![endif]>Aliran Idealisme
Aliran idealism atau aliran romantic adalah aliran yang berdasar dari pandangan yang diadopsi oleh penuisnya. Aliran idealisme ini membagi diri menjadi empat aliran secara spesifik.
<![if !supportLists]>1)      <![endif]>Romantisisme
Romantisisme adalah aliran karya satra yang sangat mengedepankan perasaan(feel), sehingga objek yang dikemukakan tidak lagi bersifat objektif, tetapi telah di bumbui perasaan si pengarang.
<![if !supportLists]>2)      <![endif]>Simbolik
Simbolik adalah aliran yang lahir sebagai reaksi terhadap realisme dan naturalisme. Aliran ini selalu menempatkan symbol atau lambing-lambang hewan atau tumbuhan sebagai objek dalam cerita.
<![if !supportLists]>3)      <![endif]>Mistisme
Mistisme adalah aliran kesusastran yang bersifat menggambarkan hubungan manusia dengan penciptanya.
<![if !supportLists]>4)      <![endif]>Surealisme
Surealisme adalah aliran karya sastra yang satrawnnya menjelaskan berbagai objek dan tanggapan secara serentak dan berpindah-pindah sehingga sulit di pahami pembaca.
<![if !supportLists]>C.      <![endif]>Aliran Materialisme
Aliran materialism ini merupakan pandanga bahwa segala sesuatu yang bersifat kenyataan dapat dikaji dengan akal manusia. Aliran ini di bedakan menjadi 2 yaitu:
<![if !supportLists]>1)      <![endif]>Realisme
Realisme adalah aliran karya stra yang menceritakan hal-hal sesuai dengan keadaan dan kenyataan yang dialami. Aliran ii terdiri dari 3 aliran yaitu:
<![if !supportLists]>·         <![endif]>Aliran Saintisme adalah pola yang menekankan pada pendekatan ilmiah atau sains merupakan pandangan yang benar.
<![if !supportLists]>·         <![endif]>Positivisme adalah pandangan kebalikan dari pemahaman metafisika9gaib atau diluar alam dunia)
<![if !supportLists]>·         <![endif]>Determinisme adalah aliran yang melihat dan berkeyakinan pada pandangan semua kejadian berdasarkan karena sebab akibat.
<![if !supportLists]>2)      <![endif]>Naturalisme
Naturalisme adalah aliran karya sastra yang mana para sastrawan yang berpandangan aliran ini selalu menyampaikan fakta secara nyata dan tanpa ada sensor sehingga kesan yang timbul kadang terlihat vulgar.

Bab 3 KELOMPOK SASTRA
<![if !supportLists]>A.    <![endif]>Jenis Kelompok Sastra
Di dalam karya sastra kelompok sastra dapat dikatagorikan sesuai jenis bahasa yang dipakaikan maupun isi karya sastra yang disampaikan oleh sastrawannya. Jenis karya sastra:
<![if !supportLists]>·         <![endif]>Non Fiksi
<![if !supportLists]>·         <![endif]>Kelompok sastra
<![if !supportLists]>·         <![endif]>Fiksi
<![if !supportLists]>B.     <![endif]>Kelompok Sastra Fiksi
Sastra fiksi/imajinatif adalah sastra yang berusaha untuk menerangkan,melukiskan,memahami dan member pandangan baru,dan menyuguhkan makna realitas kehidupan dengan keindahan atau estetika seni, keseimbangan, harmoni, atau keselarasan, dengan bahasa yang dominan konotatif atau bermakna ganda, dan khayal daam penciptaan karya sastranya.
<![if !supportLists]>C.     <![endif]>Kelompok Sastra Non-Fiksi
Sastra non-fiksi merupakan sisi terbalik dari sastra fiksi,kelompok ini lebih mengedepankan unsur-unsur  fakta daripada menyampaikan khayalannya.

Bab 4 UNSUR KARYA SASTRAA
<![if !supportLists]>A.    <![endif]>Unsur-Unsur Karya Sastra
Unsur-unsur karya sastra merupakan pendukung terhadap seorang sastrawan dalam menuangkan ide, topic, tema, emosi, bahasa dan hal-hal lain dalam karyanya. Unsur tersebut terdiri dari:
Unsur Intrinsik + Unsur Ekstrinsik = Struktur karya sastra(prosa,puisi,drama).
<![if !supportLists]>B.     <![endif]>Unsur Intrinsik
Unsur intrinsik adalah unsur yang secara langsung membangun cerita dari dalam suatu karya sastra.
<![if !supportMisalignedColumns]> <![endif]>
Puisi
Prosa
Drama
<![if !supportLists]>1)      <![endif]>Struktur Batin(sense)


<![if !supportLists]>a)      <![endif]>Tema(theme)
<![if !supportLists]>a)      <![endif]>Tema(theme)
<![if !supportLists]>a.       <![endif]>Judul(title)
<![if !supportLists]>b)     <![endif]>Nada(tone)
<![if !supportLists]>b)      <![endif]>Tokoh(actor)
<![if !supportLists]>b.      <![endif]>Tema(theme)
<![if !supportLists]>c)      <![endif]>Perasaan (feel)
<![if !supportLists]>c)      <![endif]>Alur(plot)
<![if !supportLists]>c.       <![endif]>Dialog
<![if !supportLists]>d)     <![endif]>Emosi(emotional)
<![if !supportLists]>d)     <![endif]>Latar(setting)

<![if !supportLists]>e)      <![endif]>Amanat(message)
<![if !supportLists]>e)      <![endif]>Sudut pandang(point of view)
<![if !supportLists]>d.      <![endif]>Perwatakan/karakter tokoh

<![if !supportLists]>f)       <![endif]>Gaya bahasa
<![if !supportLists]>e.       <![endif]>Alur(plot)

<![if !supportLists]>g)      <![endif]>Amanat (message)
<![if !supportLists]>f.       <![endif]>Konflik


<![if !supportLists]>g.      <![endif]>Latar(setting)


<![if !supportLists]>h.      <![endif]>Bahasa


<![if !supportLists]>i.        <![endif]>Interpretasi


<![if !supportLists]>j.        <![endif]>Amanat


<![if !supportLists]>k.      <![endif]>Sudut pandang
<![if !supportLists]>2)      <![endif]>Struktur Fisik


<![if !supportLists]>a)      <![endif]>Tipografi


<![if !supportLists]>b)     <![endif]>Enjambemen


<![if !supportLists]>c)      <![endif]>Diksi


<![if !supportLists]>d)     <![endif]>Imajinasi


<![if !supportLists]>e)      <![endif]>Kata kongrit             


<![if !supportLists]>f)       <![endif]>Gaya bahasa


<![if !supportLists]>g)      <![endif]>Ritme/Irama


<![if !supportLists]>h)      <![endif]>Rima/bunyi



<![if !supportLists]>C.     <![endif]>Unsur Ekstrinsik
Ekstrinsik ialah unsur yang turut membangun cerita dari luar karya sastra. Sesuai dengan cirri dan hakikat dari ketiga genre tersebut, unsure ekstrinsik pada semua jenis karya sastra memiliki kesamaan.
Puisi
Prosa
Drama
<![if !supportLists]>a)      <![endif]>Unsur biografi
<![if !supportLists]>a)      <![endif]>Unsur biografi
<![if !supportLists]>a.       <![endif]>Faktor ekonomi
<![if !supportLists]>b)      <![endif]>Unsur nilai dalam puisi
<![if !supportLists]>b)      <![endif]>Unsur nilai dalam puisi
<![if !supportLists]>b.      <![endif]>Faktor politik
<![if !supportLists]>c)      <![endif]>Unsur sosial
<![if !supportLists]>c)      <![endif]>Unsur social
<![if !supportLists]>c.       <![endif]>Faktor social budaya

Bab 5 GAYA BAHASA
<![if !supportLists]>A.    <![endif]>Jenis Gaya Bahasa
Gaya Bahasa Perbandingan:
<![if !supportLists]>a)      <![endif]>Metafora: “Sang surya telah keluar dari peraduannya”
(sang surya menggantikan matahari)
<![if !supportLists]>b)      <![endif]>Personifikasi: “Karna tersudut batupun ikut berbicara”
<![if !supportLists]>c)      <![endif]>Asosiasi: “Hatinya patah bagai di sambar petir”
<![if !supportLists]>d)     <![endif]>Alegori: “Aduhai bunga latulip. Merah merona menggoda. Ingin kubelai tangkaimu. Semerbak wangimu kurindu,,,,”
<![if !supportLists]>e)      <![endif]>Simbolik: “Mawar melambangkan kecintaan”
<![if !supportLists]>f)       <![endif]>Metinimia: “Meski ysng seorang naik pesawat garuda dan yang lain naik merpati, tidaklah menjadi masalah”
<![if !supportLists]>g)      <![endif]>Litotes: “Bila berkenan singgahlah di gubuk kami”
<![if !supportLists]>h)      <![endif]>Sinepdopke: “ Saya membeli tiga keranjang salak”
<![if !supportLists]>i)        <![endif]>Eufemisme: “Maaf,saya kebelakang sebentar”
<![if !supportLists]>j)        <![endif]>Hiperbola: “Wajahnya memancarkan cahaya”
<![if !supportLists]>k)      <![endif]>Parifrasis: “Burung besi telah lepas landas”

Gaya Bahasa Pertentangan
<![if !supportLists]>a)      <![endif]>Paradoks: “Gajinya besar,tapi hidupnya melarat”
<![if !supportLists]>b)      <![endif]>Antitesis: “Tua muda, besar kecil, berhak memilih dan dipilih”
<![if !supportLists]>c)      <![endif]>Kontradiksio Interminus: “Semuanya sudah tanda tangan, kecuali pak iwan”
<![if !supportLists]>d)     <![endif]>Anakronisme: “Zaman merebut kemerdekaan dulu para pejuang mengirim pesan lewat internet”
Gaya Bahasa Penegasan:
<![if !supportLists]>a)      <![endif]>Pleonasme: “Saya melihat dengan mata kepala sendiri”
<![if !supportLists]>b)      <![endif]>Paralelisme: “Kau wanita cantik, kau wanita pujaan, kau…”
<![if !supportLists]>c)      <![endif]>Interupsi: “Tiba-tiba Ia-kekasih itu- direbut oleh pria lain”
<![if !supportLists]>d)     <![endif]>Retoris: “Apakah mungkin orang buta bisa melihat”
<![if !supportLists]>e)      <![endif]>Koreksio: “Ibu sedang bekerja.Eh,bukan, ibu lagi kepasar”
<![if !supportLists]>f)       <![endif]>Asimdeton: “Adik,kakak,ibu,ayah diikutkan dalam mobil itu”
<![if !supportLists]>g)      <![endif]>Inverse: “Dingin benar malam ini”
<![if !supportLists]>h)      <![endif]>Klimaks: “Dari mulai wanita,pria,suami istri,bapak dan ibu-ibu tumpah kejalan menyaksikan konser dangdut”
<![if !supportLists]>i)        <![endif]>Anti-klimaks: “Dari kota sampai ke kampung teus ke desa sampai…”
<![if !supportLists]>j)        <![endif]>Reprtisi: “Susah senang,pahit getir, dan jatuh bangun…”
<![if !supportLists]>k)      <![endif]>Elipsi: “Kau rasakan bogem mentah ini”
Gaya Bahasa Sindiran:
<![if !supportLists]>a)      <![endif]>Ironi: “sungai ini indah dengan sampah-sampahnya”
<![if !supportLists]>b)      <![endif]>Sinisme: “Muntah aku melihat wajahmu”
<![if !supportLists]>c)      <![endif]>Sarkasme: “Tampangmu persis seperti setan”





Bab 6 ANTOLOGI PUISI
<![if !supportLists]>A.    <![endif]>Pengertian Puisi
Berdasarkan kamus besar Bahasa Indonesia puisi adalah ragam sastra yang bahasannya terikat oleh irama, mantra, rima, serta susunan larik dan bait.
<![if !supportLists]>B.     <![endif]>Karya Puisi
Ayu Maharani
Sahabat

Kau adalah tempat keluh kesahku
Dengan kau dengarkan aku
Tanpa ada rasa bosan terhadapku
Dengan senyummu yang seindah bunga dipagi hari
Canda tawa kita lalui bersama
Seakan beban menghilang dari pundak
Bersama dalam menggapai impian
Dengan tangan yang saling mengulur
Untuk meraih masa depan yang indah

Seputih Awan

Bak awan putih tak bernoda tak berdusta
Bahkan tak ada setitik noda yang kutemukan
Seakan noda menjauh darimu
Karena pagar kokoh melindunginya
Hati ini akan selalu seputih awan
Melambangkan kejujuran yang indah
Keindahan yang tiada tara
Yang akan selalu terlihat berkilau dimata
Dan akan selalu terlihat bak awan putih yang bersih.

Bab 7 ANTOLOGI PROSA
<![if !supportLists]>A.    <![endif]>Pengertian Prosa
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia prosa adalah karangan bebas tidak terikat oleh unsur-unsur yang terdapat dalam puisi,beriramasemacam bentuk kesusastraan lama yang merupakan peralihan dari bentuk puisi ke bentuk prosa.
<![if !supportLists]>B.     <![endif]>Karya Prosa
Nanda Fujiana
KERIBUTAN SIANG HARI
            Lonceng sekolah berbunyi, pertanda sudah dapat pulang kerumah, aku dan enam sahabatku pulang ersama sepeerti biasanya, ak membawa banyak buku ditanganku task u tidak mampu lagi menerima buku yang banyak ini karena isinya yang telah penuh. Hari ini sangat panas sekali, sekolah dan rumah berjarak satu kilo, lumaya jauh jika berjalan kaki.
            “Tadi kamu kenapa?” Tanya hari kepada Sulu
             “Aku enggak menyiapkan tugas rumah, dia menyuruhku hormat bendera”.
             “Hahahaha”. Kami semua tertawa mendengar penjelasan sulu.
              “Makanya jangan malas, udah dirasakan”.
               “Aku tidak mengerti dengan materiny, makanya tak ku kerjakan”.
               “Hahaha.” Kami kembali mengetawai sulu yang memasang muka melas yang sangat lucu sekali. Dalam candaan kami itu tiba-tiba sekelompok anak sekolah dengan sengaja menyenggol Ica yang berjalan dipaling ujung yang menyebabkan Ica terjatuh.
                Seketika Irwan melihat Ica terjatuh ia segera menyenggol kembali laki-laki yang menyenggol Ica. Ketika itu pula aku dan sahabat-sahabatku membantu Ica untuk bangkit kembali.
                “Ada apa ini, kenapa berani sekali kamu menyenggol dia?”
                “Maaf kawan, tidak sengaja.”
                Dengan emosi yang meninggi Irwan memukul laki-laki itu dibagian wajahnya hingga merasa kesakitan sambil memegang wajahnya. Semua mata tertuju padanya termasuk kami, suasana menjadi tegang, laki-laki itu membalas pukulan Iwan hingga ia terjatuh ketanah dan tampak darh mengalir dikening Irwan. Hari dan teman-teman lainnya berusaha melerai prkrlahian merka.
               “Ada apa ini Irwan. Jangan emosi.”
               Mereka tidak menghiraukan apa yang ikata Hari. Mereka melanjutkan pekelahian itu, sangat susah sekali menghentikan reka, hingga ada seorang wrga yag lewat dan segera meerai perkelahian tesebut.
                 “Sabar Irwan jangan pakai kekerasan.” Hari dan Sulu menenangkan Irwan yang saat itu napasnya tidak terkontrol lagi, mukanya penuh keringat, serta kulit yang sedikit berubah warna menjadi kehitaman, tampak pula bekas darah yang telah diusapnya diatas keningnya.
             Aku sangat khawatir dengan keadaan Irwan, tetap aku juga menyyngkan perbuatannya barusan. Tetapi maklumlah laki-lki memang seperti itu.
             “Bubar, bubar.” Bapak yang melerai perkelahian itu menyuruh kami untuk segera pulang.
            “Ayo kita pulang.” Hari merangkul Irwan yang mungkin masih terlihat emosi.
            Ketika kami menyusuri jalan kami berhenti terlebih dahulu, untuk beristirahat ditmpat biasa yaitu rumah kecil dipinggir danau. Kami bersegera duduk dan meletakan buku yang ku bawa. Ketika energy kami sudah kami kumpulkan, saatnya melanjutkan perjalanan mnuju rumah. Aku kembali dengan banyaknya buku yang ku bawa dan teman ku kembali dengn ceritanya masing-masing disekolah sambil terus menyusuri jalan.
            “Berat Rungke?” seseorang bertanya kepadaku, aku menoleh padanya ternyata Hari yang bertanya itu.
             “Dikit, tapi enggak apa-apa.” Aku menjawabnya, tetapi ia langsung mengambil buku bamyak itu dari taganku dan membawanya sepanjang jalan ini. Aku tak bisa mengatakan apa-apa. Aku hanya bisa tersenyum dan mengaguminya.

              Setelah aku selesai menunaikan shalat maghrib, aku mengambil Al-Quran dan membcanya perlahan, surah Al-Baqarah adalah surah yang ku baca pada malam jum’at yang dinin ini, teringat aku pada apa yang dikatakan oleh bapak guruku disekolah, “jika ingin rumah kita menjadi damai dan tentram, bacalah surah Al-Baqarah atau surat-surat lainnya. Insha Allah kita akan menemukan ketentraman dan ketenangan jiwa”.

Bab 8 ANTOLOGI DRAMA
<![if !supportLists]>A.    <![endif]>Pengertian Drama
Menurut kamus bahasa Indonesia drama adalah cerita,kisah,komidi bangsawan,lakon pertunjukan, sandiwara, teater, tonil.
<![if !supportLists]>B.     <![endif]>Jenis Drama
Drama:
<![if !supportLists]>·         <![endif]>Lakon: Tragedi, komedi, tragekomedi, opera, melodrama, farce, tablo, sentratari.
<![if !supportLists]>·         <![endif]>Pementasan: panggung, radio, televise, film, wayang, boneka.
<![if !supportLists]>·         <![endif]>Naskah: tradisional, modern.
<![if !supportLists]>·         <![endif]>Unsur: Intrinsik, ekstrisik.
<![if !supportLists]>C.     <![endif]>Karya Drama
Marliandi Subakti


“KEYAKINAN RIO DENIRA”
TOKOH         
Rio Denira       : Anak dari keluarga yang tidak kaya, mempunyai keyakinan dan niat yang kuat.
Ayah               : Orang yang slalu mendukung Rio.
Ibu                   : Pemarah tetapi pendukung Rio walaupun tidak secara langsung.
Upri Alfauza   : Orang yang memiliki tujuan sama dengan Rio.
Rendi              : Ikut keadaan saja.
ADEGAN I
            Suatu ketika saat Rio Denira beranjak dewasa dari usianya yang masih remaja sekitr 18 tahun, dia mulai bermimpi tentang tujuannya hidup di dunia ini. Dia baru saja menyelesaikan sekolah SMAnya dari SMAN 1 UNGGUL IDN. Bisa dikatakan dia bukan murid terpintar di sekolahnya dan juga bukan murid terbodoh.
            Tetapi dia mempunyai tekad yang kuat untuk menjadi seseorang yang bisa membanggakan kedua orang tuannya dan bisa mengangkat derajat kedua orang tuannya menjadi lebih baik.
            Setelah selesai SMA Rio memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya untuk melanjutkan cita-citanya menjadi orang besar. Saat itu, di rumah Rio sedang berbincang dengan ayah dan ibunya.
Rio      : “Ayah, aku punya cita-citalah”
Ayah   : “Apa cita-citamu?” kata sang ayah
Rio      : “Aku bercita-cita menjadi orang yang besar, disegani orang lain dan ingin membahagiakan ayah dan ibu”, kata Rio
Ibu       : “Mimpi kamu,iya,Rio? Kamu gak sadar, iya, kita ini bukan orang yang banyak uang. Jadi, jangan terlalu tinggi bermimpi,” ujar ibu
            Sambil menundukkan kepala, Rio tidak bisa menjawab petanyaan ibu. Dia sadar dengan yang diucapkan oleh ibunnya. Kemudian dia masuk kekamarnya dan tidur sambil memikirkan apa yang dikatakan ibu.
BERSAMBUNG...







DaftarPustakaYang Digunakan
Menurut saya daftar pustaka di dalam buku ini begitu banyak sehingga para pembaca dapat menerima fakta kebenarannya di dalam isi buku ini, sehingga mereka tidak meragukan buku ini jika pembaca mengambil beberapa isi dari buku ini untuk reverensi.








KelebihanBukuSecaraUmum
Menurut saya bagus menarik untuk di baca untuk buku panduan pembelajaran juga cocok untuk mahasiswa.Tidak hanya itu buku ini juga bagus untuk menambah wawasan kita tentang sastra yang mudah untuk dipahami.





KekuranganBukuSecaraUmum
Kekurangan buku ini ialah banyak nya meletakan contoh tanpa meletakan beberapa gambar, tujuan nya apabila gambar yang diletakan didekat contoh maka akan mempermudah pembaca apabila pembaca tidak memahami suatu contoh tersebut.




Kesimpulan
Dari hasil review buku tersebut dapat di simpulkan bahwaketika kita membuat sebuah karya jangan pernah takut dan malu dengan karya kita tetsebut, sebab lebih banyak manfaatnya karya kita bagi khalayak dibandingkan dengan kerugiannya, bahkan kita tidak perlu takut untuk dikritik ataupun diberi saran karena itu pertanda mereka masih menghargai karya kita.







PenilaindenganBintang
<![if !vml]><![endif]><![if !vml]><![endif]><![if !vml]><![endif]><![if !vml]><![endif]><![if !vml]><![endif]>