Reviewer
|
Dhea
Suliani
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Tanggal
|
06
Oktober 2019
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
JudulBuku
|
Lawang
Antologi Sastra
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
JumlahHalaman
|
197+vii
hlm
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
TahunTerbit
|
2018
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
PenulisBuku
|
Muhammad
Hasyimsyah Batubara,Dkk
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
PenilaianTerhadap
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Cover
Buku
|
Menurut saya cover buku LAWANG
ANTOLOGI SASTRA sangat menarik, perpaduan antara judul dan gambar pada cover
buku sangat berkaitan kemudian ketika kita mencermati dengan baik cover buku
tersebut kita merasa bahwa buku tersebut benar-benar menceritakan kesusastraan
pada isi buku.
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Blurb
(InformasiDalam Cover BelakangBuku)
|
Menurut saya blurbnya bagus, mudah
dipahami dan sangat berkaitan dengan isi buku.
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Kata
PengantarBuku
|
Menurut
saya kata pengantarnya baik, tutur katanya juga menarik serta membuat pembaca
penasaran dengan isi buku tersebut. Di dalam kata pengantar tersebut seolah
penulis membuat kita semakin tertarik untuk mempelajari kesusastraan.
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Gaya
BahasaPenulisanBuku
|
Menurut
saya gaya bahasa penulisannya baik, kata-katanyaa mudah di pahami oleh
pembaca dan juga banyak gaya bahasa baru yang di gunakan sehingga pembaca
lebih banyak mengetahui kosa kata baru dengan membaca buku tersebut.
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
PembahasanSingkatBuku
|
Bab
1 KARYA SASTRA
A.Pengertian Karya Sastra
Dalam bahasa Indonesia karya
sastra disebut juga ,seperti ‘sastra’ dan ‘kesusastraan’. Sastra sendiri
dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta yang merupakan
penggabungan dari dua kata ‘sas’ yang artinya mengarahkan,mengajarkan,dan member
petunjuk, dan ‘tra’ artinya alat atau sarana.
Dari penjelasan tersebut sastra dapat diartikan sebagai alat untuk
mengajar atau pengajaran dan petunjuk belajar. Selain itu makna lain dalam
bahasa Sansekerta yang menunjuk kepada sastra atau kesusastraan adalah kata
‘kata pustaka’ atau ‘kepustakaan’.
Contoh
karya sastra yang bergenre prosa puisi sebagai berikut:
Pesan Ayah Kepada Anak Yang Pergi Ke Sekolah
Duhai
anak ku sayang!
Berangkatlah
engkau berguru ke sekolah
Jangan
hanya bermain-main
Tapi
rajinlah mencari ilmu pengetahuan
Perihal
pangan dan sandang
Kucari
bersusah payah
Aku
tak akan pelit
Memberiny
kepadamu
Jika
aku pergi menjala
Kudapat
dua ekor mera
Kujuallah
seeokor
Supaya
ada bekal hidupmu
Jika
ada uang pendapatan kopi
Kuperoleh
dengan bundamu
Kusimpanlah
itu sebagian
Sebagian
lagi menjadi pusakaku untuk mu
Jika
tidak dimakan hama
Kita
peroleh tiga bumbun
Kujualkanlah
Satu
Pembeli
tembakau dan pucuk enau
Begitulah
anakku saying
Besar
harapku engkau berilmu
Jika
besok tubuhku terasa berat
Agar
engkaulah kujadikan tempat bertumpu
Jika
aku kelak sudah tua renta
Bundamu
pun sudah rabun
Bahagiakanlah
kami
Engkaulah
yang menghidupi kami
O,
Yang Maha Penyayang!
Yang
mendengar smua ucapanku ini
Aku
memohon kepada-Mu
Terangilah
sanubari anak ini.
B.
Genre Karya Sastra
Genre karya sastra merupakan
bentuk, jenis ragam, macam, katagori maupun klasifikasi yang mempunyai
struktur karya sastra yang indah:
Genre karya sastra:
<![if !supportLists]>·
<![endif]>Poetry/Puisi: Puisi Indonesia(puisi
baru,puisi lama) dan Puisi English.
<![if !supportLists]>·
<![endif]>Prose/Prosa: Fiksi/Non Fiksa(Prosa
Indonesia(prosa lama,prosa baru),Prosa English).
<![if !supportLists]>·
<![endif]>Drama: Jenis
drama,penyajianlakon,sarana pementasan,dan unsure drama.
Bab2
ALIRAN SASTRA
<![if !supportLists]>A. <![endif]>Jenis
Aliran Sastra
Aliran sastra merupakan pandangan yang
diambil seorang penulis atau sastrawan dalam menciptakan suatu karya sastra
atau dalam menggeluti dunia sastra.
Aliran Sastra:
<![if !supportLists]>·
<![endif]>Idealisme: Romantisme(romantic
idealisme, romantic realisme), simbolik, mistisme, surealisme.
<![if !supportLists]>·
<![endif]>Materialisme:
Realisme(saintisme,positivism,determinisme),naturalisme.
<![if !supportLists]>B. <![endif]>Aliran
Idealisme
Aliran idealism atau aliran romantic
adalah aliran yang berdasar dari pandangan yang diadopsi oleh penuisnya.
Aliran idealisme ini membagi diri menjadi empat aliran secara spesifik.
<![if !supportLists]>1) <![endif]>Romantisisme
Romantisisme adalah aliran karya satra
yang sangat mengedepankan perasaan(feel), sehingga objek yang dikemukakan
tidak lagi bersifat objektif, tetapi telah di bumbui perasaan si pengarang.
<![if !supportLists]>2) <![endif]>Simbolik
Simbolik adalah aliran yang lahir
sebagai reaksi terhadap realisme dan naturalisme. Aliran ini selalu
menempatkan symbol atau lambing-lambang hewan atau tumbuhan sebagai objek
dalam cerita.
<![if !supportLists]>3) <![endif]>Mistisme
Mistisme adalah aliran kesusastran
yang bersifat menggambarkan hubungan manusia dengan penciptanya.
<![if !supportLists]>4) <![endif]>Surealisme
Surealisme adalah aliran karya sastra
yang satrawnnya menjelaskan berbagai objek dan tanggapan secara serentak dan
berpindah-pindah sehingga sulit di pahami pembaca.
<![if !supportLists]>C. <![endif]>Aliran
Materialisme
Aliran materialism ini merupakan
pandanga bahwa segala sesuatu yang bersifat kenyataan dapat dikaji dengan
akal manusia. Aliran ini di bedakan menjadi 2 yaitu:
<![if !supportLists]>1) <![endif]>Realisme
Realisme adalah aliran karya stra yang
menceritakan hal-hal sesuai dengan keadaan dan kenyataan yang dialami. Aliran
ii terdiri dari 3 aliran yaitu:
<![if !supportLists]>·
<![endif]>Aliran Saintisme adalah pola yang
menekankan pada pendekatan ilmiah atau sains merupakan pandangan yang benar.
<![if !supportLists]>·
<![endif]>Positivisme adalah pandangan kebalikan
dari pemahaman metafisika9gaib atau diluar alam dunia)
<![if !supportLists]>·
<![endif]>Determinisme adalah aliran yang
melihat dan berkeyakinan pada pandangan semua kejadian berdasarkan karena
sebab akibat.
<![if !supportLists]>2)
<![endif]>Naturalisme
Naturalisme adalah aliran karya sastra
yang mana para sastrawan yang berpandangan aliran ini selalu menyampaikan
fakta secara nyata dan tanpa ada sensor sehingga kesan yang timbul kadang
terlihat vulgar.
Bab
3 KELOMPOK SASTRA
<![if !supportLists]>A. <![endif]>Jenis
Kelompok Sastra
Di dalam karya sastra kelompok sastra
dapat dikatagorikan sesuai jenis bahasa yang dipakaikan maupun isi karya
sastra yang disampaikan oleh sastrawannya. Jenis karya sastra:
<![if !supportLists]>·
<![endif]>Non Fiksi
<![if !supportLists]>·
<![endif]>Kelompok sastra
<![if !supportLists]>·
<![endif]>Fiksi
<![if !supportLists]>B.
<![endif]>Kelompok Sastra Fiksi
Sastra fiksi/imajinatif adalah sastra
yang berusaha untuk menerangkan,melukiskan,memahami dan member pandangan
baru,dan menyuguhkan makna realitas kehidupan dengan keindahan atau estetika
seni, keseimbangan, harmoni, atau keselarasan, dengan bahasa yang dominan
konotatif atau bermakna ganda, dan khayal daam penciptaan karya sastranya.
<![if !supportLists]>C. <![endif]>Kelompok
Sastra Non-Fiksi
Sastra non-fiksi merupakan sisi
terbalik dari sastra fiksi,kelompok ini lebih mengedepankan unsur-unsur fakta daripada menyampaikan khayalannya.
Bab
4 UNSUR KARYA SASTRAA
<![if !supportLists]>A. <![endif]>Unsur-Unsur
Karya Sastra
Unsur-unsur karya sastra merupakan
pendukung terhadap seorang sastrawan dalam menuangkan ide, topic, tema,
emosi, bahasa dan hal-hal lain dalam karyanya. Unsur tersebut terdiri dari:
Unsur
Intrinsik + Unsur Ekstrinsik = Struktur karya sastra(prosa,puisi,drama).
<![if !supportLists]>B. <![endif]>Unsur
Intrinsik
Unsur intrinsik adalah unsur yang
secara langsung membangun cerita dari dalam suatu karya sastra.
<![if !supportLists]>C. <![endif]>Unsur
Ekstrinsik
Ekstrinsik ialah unsur yang turut
membangun cerita dari luar karya sastra. Sesuai dengan cirri dan hakikat dari
ketiga genre tersebut, unsure ekstrinsik pada semua jenis karya sastra
memiliki kesamaan.
Bab
5 GAYA BAHASA
<![if !supportLists]>A. <![endif]>Jenis
Gaya Bahasa
Gaya Bahasa Perbandingan:
<![if !supportLists]>a)
<![endif]>Metafora: “Sang surya telah keluar
dari peraduannya”
(sang surya menggantikan
matahari)
<![if !supportLists]>b)
<![endif]>Personifikasi: “Karna tersudut batupun
ikut berbicara”
<![if !supportLists]>c)
<![endif]>Asosiasi: “Hatinya patah bagai di
sambar petir”
<![if !supportLists]>d)
<![endif]>Alegori: “Aduhai bunga latulip. Merah
merona menggoda. Ingin kubelai tangkaimu. Semerbak wangimu kurindu,,,,”
<![if !supportLists]>e)
<![endif]>Simbolik: “Mawar melambangkan
kecintaan”
<![if !supportLists]>f)
<![endif]>Metinimia: “Meski ysng seorang naik
pesawat garuda dan yang lain naik merpati, tidaklah menjadi masalah”
<![if !supportLists]>g)
<![endif]>Litotes: “Bila berkenan singgahlah di
gubuk kami”
<![if !supportLists]>h)
<![endif]>Sinepdopke: “ Saya membeli tiga
keranjang salak”
<![if !supportLists]>i)
<![endif]>Eufemisme: “Maaf,saya kebelakang
sebentar”
<![if !supportLists]>j)
<![endif]>Hiperbola: “Wajahnya memancarkan
cahaya”
<![if !supportLists]>k)
<![endif]>Parifrasis: “Burung besi telah lepas
landas”
Gaya
Bahasa Pertentangan
<![if !supportLists]>a)
<![endif]>Paradoks: “Gajinya besar,tapi hidupnya
melarat”
<![if !supportLists]>b)
<![endif]>Antitesis: “Tua muda, besar kecil,
berhak memilih dan dipilih”
<![if !supportLists]>c)
<![endif]>Kontradiksio Interminus: “Semuanya
sudah tanda tangan, kecuali pak iwan”
<![if !supportLists]>d)
<![endif]>Anakronisme: “Zaman merebut
kemerdekaan dulu para pejuang mengirim pesan lewat internet”
Gaya
Bahasa Penegasan:
<![if !supportLists]>a)
<![endif]>Pleonasme: “Saya melihat dengan mata
kepala sendiri”
<![if !supportLists]>b)
<![endif]>Paralelisme: “Kau wanita cantik, kau
wanita pujaan, kau…”
<![if !supportLists]>c)
<![endif]>Interupsi: “Tiba-tiba Ia-kekasih itu-
direbut oleh pria lain”
<![if !supportLists]>d)
<![endif]>Retoris: “Apakah mungkin orang buta
bisa melihat”
<![if !supportLists]>e)
<![endif]>Koreksio: “Ibu sedang
bekerja.Eh,bukan, ibu lagi kepasar”
<![if !supportLists]>f)
<![endif]>Asimdeton: “Adik,kakak,ibu,ayah
diikutkan dalam mobil itu”
<![if !supportLists]>g)
<![endif]>Inverse: “Dingin benar malam ini”
<![if !supportLists]>h)
<![endif]>Klimaks: “Dari mulai wanita,pria,suami
istri,bapak dan ibu-ibu tumpah kejalan menyaksikan konser dangdut”
<![if !supportLists]>i)
<![endif]>Anti-klimaks: “Dari kota sampai ke
kampung teus ke desa sampai…”
<![if !supportLists]>j)
<![endif]>Reprtisi: “Susah senang,pahit getir,
dan jatuh bangun…”
<![if !supportLists]>k)
<![endif]>Elipsi: “Kau rasakan bogem mentah ini”
Gaya
Bahasa Sindiran:
<![if !supportLists]>a)
<![endif]>Ironi: “sungai ini indah dengan
sampah-sampahnya”
<![if !supportLists]>b)
<![endif]>Sinisme: “Muntah aku melihat wajahmu”
<![if !supportLists]>c)
<![endif]>Sarkasme: “Tampangmu persis seperti
setan”
Bab
6 ANTOLOGI PUISI
<![if !supportLists]>A. <![endif]>Pengertian
Puisi
Berdasarkan kamus besar Bahasa
Indonesia puisi adalah ragam sastra yang bahasannya terikat oleh irama,
mantra, rima, serta susunan larik dan bait.
<![if !supportLists]>B. <![endif]>Karya
Puisi
Ayu
Maharani
Sahabat
Kau
adalah tempat keluh kesahku
Dengan
kau dengarkan aku
Tanpa
ada rasa bosan terhadapku
Dengan
senyummu yang seindah bunga dipagi hari
Canda
tawa kita lalui bersama
Seakan
beban menghilang dari pundak
Bersama
dalam menggapai impian
Dengan
tangan yang saling mengulur
Untuk
meraih masa depan yang indah
Seputih Awan
Bak
awan putih tak bernoda tak berdusta
Bahkan
tak ada setitik noda yang kutemukan
Seakan
noda menjauh darimu
Karena
pagar kokoh melindunginya
Hati
ini akan selalu seputih awan
Melambangkan
kejujuran yang indah
Keindahan
yang tiada tara
Yang
akan selalu terlihat berkilau dimata
Dan
akan selalu terlihat bak awan putih yang bersih.
Bab
7 ANTOLOGI PROSA
<![if !supportLists]>A. <![endif]>Pengertian
Prosa
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia
prosa adalah karangan bebas tidak terikat oleh unsur-unsur yang terdapat
dalam puisi,beriramasemacam bentuk kesusastraan lama yang merupakan peralihan
dari bentuk puisi ke bentuk prosa.
<![if !supportLists]>B. <![endif]>Karya
Prosa
Nanda
Fujiana
KERIBUTAN
SIANG HARI
Lonceng sekolah berbunyi, pertanda
sudah dapat pulang kerumah, aku dan enam sahabatku pulang ersama sepeerti
biasanya, ak membawa banyak buku ditanganku task u tidak mampu lagi menerima
buku yang banyak ini karena isinya yang telah penuh. Hari ini sangat panas
sekali, sekolah dan rumah berjarak satu kilo, lumaya jauh jika berjalan kaki.
“Tadi kamu kenapa?” Tanya hari
kepada Sulu
“Aku enggak menyiapkan tugas rumah,
dia menyuruhku hormat bendera”.
“Hahahaha”. Kami semua tertawa
mendengar penjelasan sulu.
“Makanya jangan malas, udah
dirasakan”.
“Aku tidak mengerti dengan
materiny, makanya tak ku kerjakan”.
“Hahaha.” Kami kembali
mengetawai sulu yang memasang muka melas yang sangat lucu sekali. Dalam
candaan kami itu tiba-tiba sekelompok anak sekolah dengan sengaja menyenggol
Ica yang berjalan dipaling ujung yang menyebabkan Ica terjatuh.
Seketika Irwan melihat Ica
terjatuh ia segera menyenggol kembali laki-laki yang menyenggol Ica. Ketika
itu pula aku dan sahabat-sahabatku membantu Ica untuk bangkit kembali.
“Ada apa ini, kenapa berani
sekali kamu menyenggol dia?”
“Maaf kawan, tidak sengaja.”
Dengan emosi yang meninggi
Irwan memukul laki-laki itu dibagian wajahnya hingga merasa kesakitan sambil
memegang wajahnya. Semua mata tertuju padanya termasuk kami, suasana menjadi
tegang, laki-laki itu membalas pukulan Iwan hingga ia terjatuh ketanah dan
tampak darh mengalir dikening Irwan. Hari dan teman-teman lainnya berusaha
melerai prkrlahian merka.
“Ada apa ini Irwan. Jangan emosi.”
Mereka tidak menghiraukan apa
yang ikata Hari. Mereka melanjutkan pekelahian itu, sangat susah sekali
menghentikan reka, hingga ada seorang wrga yag lewat dan segera meerai
perkelahian tesebut.
“Sabar Irwan jangan pakai kekerasan.”
Hari dan Sulu menenangkan Irwan yang saat itu napasnya tidak terkontrol lagi,
mukanya penuh keringat, serta kulit yang sedikit berubah warna menjadi
kehitaman, tampak pula bekas darah yang telah diusapnya diatas keningnya.
Aku sangat khawatir dengan
keadaan Irwan, tetap aku juga menyyngkan perbuatannya barusan. Tetapi
maklumlah laki-lki memang seperti itu.
“Bubar, bubar.” Bapak yang
melerai perkelahian itu menyuruh kami untuk segera pulang.
“Ayo kita pulang.” Hari merangkul
Irwan yang mungkin masih terlihat emosi.
Ketika kami menyusuri jalan kami
berhenti terlebih dahulu, untuk beristirahat ditmpat biasa yaitu rumah kecil
dipinggir danau. Kami bersegera duduk dan meletakan buku yang ku bawa. Ketika
energy kami sudah kami kumpulkan, saatnya melanjutkan perjalanan mnuju rumah.
Aku kembali dengan banyaknya buku yang ku bawa dan teman ku kembali dengn
ceritanya masing-masing disekolah sambil terus menyusuri jalan.
“Berat Rungke?” seseorang bertanya
kepadaku, aku menoleh padanya ternyata Hari yang bertanya itu.
“Dikit, tapi enggak apa-apa.”
Aku menjawabnya, tetapi ia langsung mengambil buku bamyak itu dari taganku
dan membawanya sepanjang jalan ini. Aku tak bisa mengatakan apa-apa. Aku
hanya bisa tersenyum dan mengaguminya.
Setelah aku selesai menunaikan
shalat maghrib, aku mengambil Al-Quran dan membcanya perlahan, surah
Al-Baqarah adalah surah yang ku baca pada malam jum’at yang dinin ini,
teringat aku pada apa yang dikatakan oleh bapak guruku disekolah, “jika ingin
rumah kita menjadi damai dan tentram, bacalah surah Al-Baqarah atau
surat-surat lainnya. Insha Allah kita akan menemukan ketentraman dan
ketenangan jiwa”.
Bab
8 ANTOLOGI DRAMA
<![if !supportLists]>A. <![endif]>Pengertian
Drama
Menurut kamus bahasa Indonesia drama
adalah cerita,kisah,komidi bangsawan,lakon pertunjukan, sandiwara, teater,
tonil.
<![if !supportLists]>B. <![endif]>Jenis
Drama
Drama:
<![if !supportLists]>·
<![endif]>Lakon: Tragedi, komedi, tragekomedi,
opera, melodrama, farce, tablo, sentratari.
<![if !supportLists]>·
<![endif]>Pementasan: panggung, radio, televise,
film, wayang, boneka.
<![if !supportLists]>·
<![endif]>Naskah: tradisional, modern.
<![if !supportLists]>·
<![endif]>Unsur: Intrinsik, ekstrisik.
<![if !supportLists]>C.
<![endif]>Karya Drama
Marliandi
Subakti
“KEYAKINAN
RIO DENIRA”
TOKOH
Rio
Denira : Anak dari keluarga yang
tidak kaya, mempunyai keyakinan dan niat yang kuat.
Ayah : Orang yang slalu mendukung
Rio.
Ibu : Pemarah tetapi pendukung
Rio walaupun tidak secara langsung.
Upri
Alfauza : Orang yang memiliki tujuan
sama dengan Rio.
Rendi : Ikut keadaan saja.
ADEGAN
I
Suatu ketika saat Rio Denira
beranjak dewasa dari usianya yang masih remaja sekitr 18 tahun, dia mulai
bermimpi tentang tujuannya hidup di dunia ini. Dia baru saja menyelesaikan
sekolah SMAnya dari SMAN 1 UNGGUL IDN. Bisa dikatakan dia bukan murid
terpintar di sekolahnya dan juga bukan murid terbodoh.
Tetapi dia mempunyai tekad yang
kuat untuk menjadi seseorang yang bisa membanggakan kedua orang tuannya dan
bisa mengangkat derajat kedua orang tuannya menjadi lebih baik.
Setelah selesai SMA Rio memutuskan
untuk melanjutkan kuliahnya untuk melanjutkan cita-citanya menjadi orang
besar. Saat itu, di rumah Rio sedang berbincang dengan ayah dan ibunya.
Rio : “Ayah, aku punya cita-citalah”
Ayah : “Apa cita-citamu?” kata sang ayah
Rio : “Aku bercita-cita menjadi orang yang
besar, disegani orang lain dan ingin membahagiakan ayah dan ibu”, kata Rio
Ibu : “Mimpi kamu,iya,Rio? Kamu gak sadar,
iya, kita ini bukan orang yang banyak uang. Jadi, jangan terlalu tinggi
bermimpi,” ujar ibu
Sambil menundukkan kepala, Rio
tidak bisa menjawab petanyaan ibu. Dia sadar dengan yang diucapkan oleh
ibunnya. Kemudian dia masuk kekamarnya dan tidur sambil memikirkan apa yang
dikatakan ibu.
BERSAMBUNG...
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
DaftarPustakaYang
Digunakan
|
Menurut
saya daftar pustaka di dalam buku ini begitu banyak sehingga para pembaca
dapat menerima fakta kebenarannya di dalam isi buku ini, sehingga mereka
tidak meragukan buku ini jika pembaca mengambil beberapa isi dari buku ini
untuk reverensi.
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
KelebihanBukuSecaraUmum
|
Menurut
saya bagus menarik untuk di baca untuk buku panduan pembelajaran juga cocok
untuk mahasiswa.Tidak hanya itu buku ini juga bagus untuk menambah wawasan
kita tentang sastra yang mudah untuk dipahami.
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
KekuranganBukuSecaraUmum
|
Kekurangan
buku ini ialah banyak nya meletakan contoh tanpa meletakan beberapa gambar,
tujuan nya apabila gambar yang diletakan didekat contoh maka akan mempermudah
pembaca apabila pembaca tidak memahami suatu contoh tersebut.
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Kesimpulan
|
Dari hasil review buku tersebut dapat
di simpulkan bahwaketika kita membuat sebuah karya jangan pernah takut dan
malu dengan karya kita tetsebut, sebab lebih banyak manfaatnya karya kita
bagi khalayak dibandingkan dengan kerugiannya, bahkan kita tidak perlu takut
untuk dikritik ataupun diberi saran karena itu pertanda mereka masih
menghargai karya kita.
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
PenilaindenganBintang
|
<![if !vml]>
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
Review Buku Lawang Antologi Sastra Bimbingan dan Latihan oleh Dhea Suliani

Monday, November 4, 2019
comment 0 comments
more_vert